BacaJuga: Ucapkan Kabar Duka, UAS Bagikan Momen Genggam Erat Tangan Habib Ali Dikutip SuaraJakarta.id—grup Suara.com—dari akun Facebook Habib Ahmad Kazim Al-Kaff, Marga Assegaf diturunkan oleh Al-Quthub Ar-Robbani Faqihil Muqaddam At-Tsani Al-Imam Abdurrahman Assegaf.. Imam Abdurrahman Assegaf merupakan putra dari Imam Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad Faqih Muqaddam.
AlHabib Alwi bin Segaf Assegaf lahir di Seiwun pada tanggal 13 Ramadhan 1227 H. Beliau tumbuh dan terdidik dalam asuhan ayahnya al Habib Segaf Assegaf. Setelah menginjak usia tamyiz, beliau memulai belajar al Quran sampai khatam dengan sempurna beserta tajwidnya. Kemudian beliau mempelajari berbagai cabang ilmu agama dari banyak ulama pada
Sebutsaja Citayam Fashion Week yang saat ini sedang viral oleh mereka pemuda-pemudi yang mencoba memanfaatkan ruang publik untuk mengekspresikan jati diri
Fast Money. Ustaz Miftah el-BanjaryPakar Ilmu Linguistik Arab dan Tafsir Al-Qur'anDikisahkan oleh Al-Habib Ahmad bin Sayyidil Walid Al-Habib Ali bin Abdurrahman bin Ahmad Assegaf tentang karomah seorang wali besar Al-Quthub Al-Habib Sholeh bin Muhsin Tanggul Jember atau lebih dikenal dengan julukan Habib Sholeh Tanggul dalam mengatasi wabah penyakit di masanya. Habib Ahmad bin Ali bin Abdurrahman Asseqaf yang juga sekaligus Pengasuh Majelis Ta'lim An-Nurul Al-Kasyaf Jakarta menceritakan kisah itu saat kajian rutin Sabtu sore 14/3/2020 di Majelis Al-Afaf Tebet Jakarta yang dihadiri ratusan Sholeh Tanggul sangat terkenal dengan kemustajaban doanya yang secepat kilat menyambar. Pada masa Habib Sholeh Tanggul pernah terjadi satu wabah penyakit yang mematikan yang tersebar luas di masyarakat. Wabah penyakit itu dikenal dengan nama yang unik, yaitu wabah 'Madeblug'. Namanya diambil dari salah satu wabah 'Madeblug' itu lebih mengerikan daripada virus Corona yang sedang mewabah saat ini. Jika seorang korban terkena wabah penyakit itu di pagi hari, maka di sore harinya orang itu akan meninggal dunia. Masyarakat yang merasa resah terhadap wabah penyakit itu pun mendatangi Habib Sholeh Tanggul untuk meminta air serta didoakan kesembuhan. Berkat doa dan karomah Habib Sholeh Tanggul banyaklah para warga masyarakat yang sembuh dengan izin Allah Ta' hari semakin banyaklah orang-orang yang berdatangan meminta keberkahan doa Habib Sholeh. Ada yang datang menggunakan truk besar. Lantaran banyaknya masyarakat dari desa lain yang berdatangan meminta air dan doa kesembuhan, membuat Habib Shaleh Tanggul Sholeh bertanya, "Apakah di desa kalian ada danau?" Mereka menjawab, "Ada, wahai Habib! Lantas kemudian Habib Sholeh memberikan selembar kertas yang digulung-gulungkan. Habib Sholeh mengisyaratkan agar kertas yang digulung itu dilempar ke danau yang ada di desa demikian warga desa tidak perlu lagi datang meminta air dan doa kesembuhan kepada Habib. Mereka cukup meminum air di sungai atau danau tersebut. Perintah itu pun dilaksanakan warga desa dengan penuh keyakinan. Dengan izin Allah, Alhamdulillah tak berapa lama wabah penyakit di desa itu sirna, sehingga tak ada lagi warga desa yang sakit akibat wabah penyakit 'Madeblug' seorang aparat desa yang tidak terlalu yakin terhadap karomah Habib Shaleh Tanggul pun meminta agar gulungan tulisan yang pernah dilemparkan ke danau itu dicari lagi. Akhirnya, gulungan tulisan tersebut ditemukan dan dibuka. Mereka merasa penasaran apa yang dituliskan Habib Sholeh pada kertas itu, sehingga begitu mujarab mengobati wabah penyakit yang mematikan dibuka, isinya bukan wafaq atau rajah yang lazimnya dituliskan oleh para ulama. Betapa terperanjatnya orang-orang yang mengetahui isi gulingan tulisan itu yang ternyata hanya tulisan tangan Habib Sholeh Tanggul yang bertuliskan dalam bahasa Indonesia, "Selamat Tinggal Madeblug!" Masya Allah! Memang ini kisah yang unik sekaligus sulit dinalar dengan logika manusia, namun begitulah faktanya orang-orang yang meyakini adanya karomah para wali Allah tentu kisah-kisah peristiwa semacam ini bukanlah sesuatu yang aneh, apalagi mustahil. Jika Allah menghendaki sesuatu, apapun bisa terjadi. Persoalan karomah pada diri orang-orang saleh telah dikabarkan Allah Ta'ala dalam kisah-kisah kaum shalihin maupun hadis-hadis Nabi serta kitab-kitab yang ditulis para imam besar. Semisal Kitab Jami'e Karamatil Aulia karya Syeikh Yusuf bin Ismail karomah yang mirip juga pernah dialami oleh Khalifah Sayyidina Umar bin Khattab ketika menerima laporan keringnya air Sungai Nil yang disebabkan adanya kepercayaan orang-orang Mesir yang selalu memberikan tumbal anak gadis perawan setiap tahunnya agar airnya selalu mengalir. Setelah mendengar kabar itu, Sayyidina Umar di Madinah menulis selembar surat yang isinya "Wahai sungai Nil, jika engkau mengering disebabkan kehendak Allah, maka mengeringlah! Tapi, jika engkau mengering atas kehendak dirimu, maka aku perintahkan agar engkau melimpahkan airmu!"Surat itu dikirimkan kepada penguasa Gubernur Mesir kala itu, Amr bin Ash agar dilemparkan ke sungai Nil. Atas izin Allah, semenjak itu sungai Nil tidak pernah lagi surut dan meminta tumbal. Inilah bukti kedekatan seorang hamba yang saleh pada Rabb-Nya, sebagaimana Hadis Qudsi yang pernah Rasulullah sabdakan, dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman "Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka sungguh Aku telah menyatakan peperangan terhadapnya. Dan tiadalah seorang hamba-Ku yang melakukan taqarrub ibadah kepada-Ku dengan amalan yang Aku wajibkan atasnya, tiadalah seorang hamba yang senantiasa mendekatkan dirinya pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku pun mencintainya. Manakala Aku mencintai hamba-Ku, maka Aku menjadi pendengarannya yang Aku mendengar dengan dia, Aku menjadi penglihatan yang Aku melihat dengan dia. Aku menjadi tangan yang dengan dia menggenggam dengan dia dan menjadi kaki yang Aku berjalan dengan dia. Jika dia meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku beri dan jika dia berlindung kepada-Ku, niscaya Aku yang menjadi pelindung baginya." HR. Al BukhariMaka pesan Al-Habib Ahmad Asseqaf, jika tersebar wabah virus penyakit maka janganlah kita merasa khawatir secara berlebihan. Ada baiknya kita memperbanyak mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dengan amalan-amalan serta wirid-wiridan yang dapat membantengi dari segala wabah penyakit dan itu, hendaknya kita juga mendekati para ulama, para wali dan orang-orang saleh untuk berharap doa dan keberkahan dari mereka. Terbukti ada banyak kisah-kisah peristiwa serupa dimana kita sangat membutuhkan wasilah dari keberkahan doa-doa dari orang-orang saleh yang sangat mustajab A'lam Bish-Showabrhs
Karomah Habib Abdurrahman Bin Ahmad Assegaf Bermunajat 41 Hari Temukan Sumber Air Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri dimakamkan di TPU Lolongok, di Jalan Lolongok, Bogor, Jawa Barat. Berjarak 200 Meter dari makam guru Beliau, Habib Abdullah bin Muhsin Al-Aththas Habib Empang Bogor. Makam beliau sangat asri dan nyaman untuk membaca doa karena terdapat alas karpet. “Banyak peziarah yang datang kesini”, ujar seorang Ibu tua yang menjadi penjaga makam. Wali Allah yang mengajar tanpa kenal lelah, sederhana, ikhlas, selalu mementingkan kesederhanaan dan disiplin. Kedisiplinan Beliau tidak hanya dalam hal mengajar, tapi juga dalam soal makan. “Walid tidak akan pernah makan sebelum waktunya. Dimanapun ia selalu makan tepat waktu.” tutur Habib Ali bin Abdurrahman, putra Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri. Mengenai keikhlasan dan kedermawanannya, beliau selalu siap menolong siapa saja yang membutuhkan bantuannya. Ketika masih menjadi pelajar, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri mejadi murid kebanggaan dan disayang oleh para guru. Beliaulah satu-satunya murid yang sangat menguasai tata bahasa Arab dan acuan bagi murid lain. Tata bahasa Arab adalah ilmu yang digunakan untuk memahami kitab-kitab klasik yang lazim disebut “kitab kuning”. Setelah menginjak usia dewasa, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri dipercaya sebagai guru di madrasahnya. Disinilah bakat dan keinginannya untuk mengajar semakin menyala. Beliau menghabiskan waktunya untuk mengajar dan tidak hanya piawai dalam ilmu-ilmu agama, tapi juga melatih bidang-bidang yang lain, seperti melatih kelompok musik dari seruling sampai terompet , drum band, bahkan juga baris-berbaris. Salah satu kisah mengenai karomah Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri adalah ketika beliau membuka Majlis Taklim Al-Buyro di Parung Banteng Bogor sekitar tahun 1990. Sebelumnya sangat sulit mencari sumber air bersih di Parung Banteng Bogor. Ketika membuka majlis Taklim itulah, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri bermunajat kepada Allah SWT selama 40 hari 40 malam, mohon petunjuk lokasi sumber air. Pada hari ke 41, sumber belum juga ditemukan. Maka Beliau meneruskan munajatnya. Tak lama kemudian, entah darimana, datanglah seorang lelaki membawa cangkul. Dan serta merta ia mencangkul tanah dekat rumah Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri. Setelah mencangkul, ia berlalu dan tanah bekas cangkulan itu ditinggal, dibiarkan begitu saja. Dan, subhanallah, sebentar kemudian dari tanah bekas cangkulan itu merembeslah air. Sampai kini sumber air bersih itu dimanfaatkan oleh warga Parung Banteng, terutama untuk keperluan Majelis Taklim Al-Busyro. Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri mempunyai putra dan putri 22 orang; diantaranya Habib Muhammad, pemimpin pesantren di kawasan Ceger; Habib Ali, memimpin Majelis Taklim Al-Affaf di wilayah Tebet; Habib Alwi, memimpin Majlis Taklim Zaadul Muslim di Bukit Duri; Habib Umar, memimpin pesantren dan Majlis Taklim Al-Kifahi Ats-Tsaqafi di Bukit Duri dan Habib Abu Bakar, memimpin pesantren Al-Busyro di Citayam. Hal ini sesuai dengan pesan Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri yang menekankan bahwa dirinya tidak mau meninggalkan harta sebagai warisan untuk anak-anaknya. Beliau hanya mendorong anak-anaknya agar mencintai ilmu dan mencintai dunia pendidikan. Beliau ingin kami konsisten mengajar, karenanya beliau melarang anaknya melibatkan diri dengan urusan politik maupun masalah keduniaan, seperti dagang, membuka biro haji dan sebagainya. Karomah Habib Abdurrahman Bin Ahmad Assegaf Bermunajat 41 Hari Temukan Sumber Air Sumber Pemuda Majlis Rasulullah SAW Editor Mas Ahmad Pos terkaitKaromah Foto Mbah Maimoen Zubair Dirasakan Langsung Santri MaduraKisah Unik Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Bisri Syansuri Saat Bahtsul MasailRahasia Ilmunya Syaikhona Kholil Mengalir Pada Mbah Manab Lirboyo
Daftar Isi Profil Habib Abdul Qadir bin Alwy Assegaf1. Kelahiran2. Wafat3. Pendidikan4. Kisah Pesahabatan5. Teladan6. KaromahKelahiranHabib Abdul Qadir bin Alwy As-Segaf lahir pada tahun 1241 H, di Seiwun, Habib Abdul Qadir bin Alwy As-Segaf sakit, salah seorang putranya yang bernama Umar mengusahakan kesembuhan dengan cara bersedekah atau yang Abdul Qadir yang mengetahui hal tersebut, beliau langsung mengatakan, “Jangan merepotkan diri, karena Malaikat Maut sudah dua atau tiga kali mendatangiku,” Dalam sakit itu pula ia sering menyambut kedatangan ahlil ghaib di tengah malam dan berbincang-bincang dengan tersebut berlangsung hampir setiap malam, sampai suatu saat ditemukan secarik kertas di dekatnya yang bertuliskan syair, “Telah datang pada kami, Shohibul Waqt, Khidir dan Ilyas. Mereka memberiku kabar gembira seraya berkata,’Kau dapatkan hadiah serta pakaian. Jangan takut! Jangan khawatir dengan kejahatan orang yang dengki, serta syaitan.”Tidak lama setelah itu, beliau meninggalkan alam yang fana ini tepatnya pada tanggal 13 Rabiul Awal 1331 H 1912 M. Jasadnya yang suci kemudian dimakamkan di pemakaman Bejagung, Tuban. Haul Habib Abdul Qadir biasanya diperingati pada bulan Sya’ban di Jl Pemuda, kecil ia telah dididik secara khusus oleh paman beliau yaitu Habib Abdurrahman bin Ali Assegaf. Beliau selalu diajak berziarah ke tempat-tempat yang jauh dari tempat tinggalnya di Seiwun oleh paman beliau. Dalam berziarah ke tempat para auliya’, ia pun pernah menyaksikan kejadian yang menakjubkan hatinya, yakni saat berziarah ke makam Syaikh Umar Ba Makhramah. Di mana, Habib Abdurrahman ketika di dalam kubah makam Syaikh Umar Ba Makhramah, tiba-tiba Syaikh Umar bangun dari kuburnya dan bercakap-cakap dengan Habib Umar. Habib Abdul Qadir menyaksikan kejadian itu secara yaqadzah terjaga, bukan melalui mimpi.Kisah PersahabatanSejak menginjak usia remaja, Habib Abdul Qadir mulai berteman akrab dengan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Sahibul Maulid Simthud Durar dan Habib Abdullah bin Ali Al Haddad Sahibur Ratib Hadad. Bahkan di akhir umur Habib Abdullah Al Hadad pernah berkirim surat kepada Habib Abdul Qadir yang diantaranya berisi,”Sesungguhnya jiwa-jiwa itu saling terpaut,” Tidak lama setelah itu Habib Abdullah bin Ali Al-Hadad wafat, dan 27 hari kemudian Habib Abdul Qadir juga wafat. Beliau juga mempunyai hubungan yang istimewa dengan Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi Surabaya dan Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdar Bondowoso.Kedekatan hubungan Habib Abdul Qadir dengan Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi tidak lepas dari kejadian menimpa Habib Muhammad yang sering kali tidak bisa menguasai diri ketika kedatangan hal keadaan luar biasa yang meliputi seseorang yang datang dari Allah SWT. Dalam keadaan seperti itu Habib Muhammad tidak tahu apa yang terjadi di saat Habib Muhammad kedatangan hal ketika sedang berjalan, kebetulan saat itu Habib Abdul Qadir sedang berada di dekatnya. Melihat keadaan Habib Muhammad yang hampir tidak sadarkan diri, Habib Abdul Qadir segera menyadarkannya, sehingga Habib Muhammad pun sadar dan melihat Habib Abdul Qadir telah berada di berdua akhirnya berpelukan,”Ini adalah sebaik-baik obat,” kata Habib Muhammad dengan raut wajah yang gembira. Sejak itulah, hubungan Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi dan Habib Abdul Qadir semakin erat dan saking dekatnya, Habib Muhammad menyatakan bahwa menceritakan tentang keadaaan Habib Abdul Qadir lebih manis dari madu. Kecintaan itu juga oleh Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi diungkapkan dalam syairWahai malam yang penuh cahayaSemua permintaan telah terkabulHari ini aku datang ke Tuban di awal bulanPutra Alwi yang kucintaKelezatannya tiada bandinganDia lah pintu masuk dan pintu keluar kitaObat bagi yang kena segala penyakitDari hatinya memancar rahasia sempurnaSemoga dengan berkahnya, dosa dan salah kita diampuniPenerus BeliauTeladanHabib Abdul Qadir dalam kesehariannya dikenal sebagai pribadi yang ramah tamah, murah senyum dan dermawan, semua orang yang mengenalnya pasti akan mencintainya. Tidak heran bila para auliya’ di jamannya banyak memuji dan mengagungkan beliau, salah satunya adalah Habib Abdullah bin Muhsin Al Attas, beliau selalu mengunjungi semasa hidup mau pun sesudah wafatnya. Wali Kramat dari Empang, Bogor itu bersyair dengan pujian,”Telah bertiup angin segar dari Kota Tuban….” Auliya lain yang sering mengunjungi beliau adalah Habib Ahmad bin Abdullah Al Attas, Pekalongan dan Habib Abdul Qadir bin BerlobangPernah suatu ketika Habib Abdul Qadir dalam perjalanan pulang dari haji bersama rombongan dengan mempergunakan perahu. Ternyata perahu yang dinaikinya berlubang, air pun masuk menerobos dengan deras ke dalam perahu. Orang-orang panik dan segera mengurasnya. Tapi air yang masuk bukan semakin habis, malah semakin banyak dan memenuhi seluruh perahu hingga hampir tenggelam. Keringat dan air laut berpadu membasahi pakaian yang dikenakan mereka yang tengah berusaha dengan keras menguras air dalam perahu. Para penumpang menangis karena putus hal itu Habib Abdul Qadir segera masuk ke dalam bagasi kapal beserta dua isterinya. Setelah menutup pintu beliau berdoa sambil mengangkat tangannya memohon kepada Allah. Tiba-tiba datanglah empat orang lelaki yang telah berdiri di hadapannya, kemudian salah satunya menepuk punggungnya.”Hai Abdul Qadir! Aku Umar Muhadar,” katanya sambil memperkenalkan tiga orang yang ada disebelahnya, “Ini kakekmu, Alwi bin Ali bin Al-Faqih Al-Muqaddam. Itu kakekmu, Abdurrahman Assegaf dan yang itu Syaikh Abu Bakar bin Salim.”Setelah itu lelaki tersebut menyuruh Habib Abdul Qadir menguras air dan keempat lelaki asing itu pun lalu menghilang. “Apakah kalian melihat empat orang tadi?” tanya Habib Abdul Qadir kepada kedua isterinya. “Tidak,” jawab Abdul Qadir segera keluar dan menyuruh para penumpang untuk menguras kembali air laut yang masuk ke dalam perahu. Tak berapa lama kemudian, perahu besar itu sudah tidak berisi air lagi. Ternyata lubang tadi telah lenyap, papan-papannya tertutup rapat seakan tak pernah terjadi apa-apa Tuntunan dari RasulullahDikisahkan, suatu malam Habib Abdul Qadir bermimpi, dalam mimpinya ia bertemu Nabi SAW tengah menuntun Habib Hasan bin Soleh Al-Bahr. Lalu Nabi SAW menyuruhnya membaca Doa Khidir AS sebanyak 50 kali setiap pagi dan sore. Habib Abdul Qadir merasa bilangan itu terlalu banyak. Ia ingin agar Habib Hasan memintakan keringanan untuknya, belum sempat diutarakan, Nabi SAW bersabda,”Bacalah sebanyak lima kali saja, tetapi pahalanya tetap 50.” Gambaran ini persis seperti lafadz barjanji ketika mengisahkan Isra’ Mi’ itu, Habib Abdul Qadir terjaga dari tidurnya dan membaca doa Nabi Khidir dari awal sampai akhir, padahal dia belum pernah tahu doa tersebut sebelumnya. Ia lalu mencari teks doa itu dan menemukannya di kitab Maslakul Qarib, tetapi di sana ada tambahan dan pengurangan. Sampai akhirnya ia menemukan teks yang sama persis di kitab Ihya’ juz 4 dalam bab Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Imam Ghozali menyebutkan faedah dan pahala yang sangat banyak dalam doa jelaslah bahwa itu termasuk salah satu karamah Habib Abdul Qadir, sebab ia hafal doa yang cukup panjang hanya dengan dituntun Nabi Muhammad SAW. Dalam khasanah dunia pesantren, cara menghafal demikian disebut ilmu paled! atau apal pisan langsung wuledsekali dengar langsung hafal.
karomah habib alwi bin abdurrahman assegaf